Pilpres adalah topik (terpopuler) di setiap pembicaraan. Ada yang mendukung dengan fanatik tapi ada pula yang malu-malu mengakui mendukung salah satu calon. Begitu juga, di ruang guru… Beberapa hari yang lalu, di atas meja saya ada brosur yang isinya imbauan untuk memilih…(teman-teman saya tahu, kalau saya itu penggemar setia GOLPUT…)… jadi, mereka meletakkannya di atas meja saya, pastinya dengan sebuah harapan. Sebuah ajakan baik, tapi belum meyakinkan saya untuk memilih. Tentunya, banyak orang bertanya mengapa saya selalu memilih untuk tidak memilih di setiap pemilu (kecuali Pilkada DKI kemarin…soalnya, saya mengenal cukup baik siapa Fauzi Bowo..) Naaahhh….itu alasan saya. Sebelum memilih syarat utama yang harus saya pertimbangkan adalah, saya mengenal baik siapa calon tersebut. Bagaimana cara mengenalnya… salah satunya adalah melihat dan mengamati tindak-tanduk sang calon sebelum menjadi calon. Perbuatan, keputusan, perhatian, dan visi ybs juga menjadi syarat untuk memilih.
Salah satu pendukung capres mengatakan, yang penting bukan dari orde baru!!! Waaahhh….mengapa kesalahan pendahulu harus dilimpahkan juga ke penerusnya. Itukan tidak adil. Contoh, cucu anggota PKI pasti tidak ingin di cap sebagai PKI atau seorang narapidana juga tidak ingin di pandang sebagai penjahat selamanya… atau siswa bandel tidak selamanya berbuat bandel.. Terlalu dangkal cara menilai sesuatu jika parameternya hanya kesalahan masa lalu (atau, cuma mencari-cari kesalahan.. biar dirinya tidak terlihat bersalah…)
Satu lagi mengatakan, jika Si MP jadi pemimpin, maka kebebasan akan terbelenggu…mereka berdua kan mafia… ini juga penilaian yang amburadul… belum melihat kinerjanya sudah menilai buruk. Kalau hal tersebut dikembalikan kepada diri kita, pasti kita akan marah..yang terucap “elo kan belum lihat kerja gue!!! Gak sepantasnya lo nilai gue, apa elo juga pasti berhasil kalo lo yang ngerjain…!” (kalimat itu kutipan dari seorang teman yang kecewa ketika dinilai oleh orang lain…)…Atau, mereka berdua contoh buruk dalam membina rumah tangga…busyet…. penilaian apaan tuh. Politik kok disamakan dengan rumah tangga……ckckckck
Satu lagi dengan polosnya mengatakan…kalau si JW jadi pemimpin, utang luar negeri (akan) teratasi, secara dia itu pengusaha. Tahu apa yang harus dilakukan.. Hahahaha….lucu-lucu komentar para pendukung Capres…
Lalu, bagaimana dengan saya… dari ketiga Capres belum ada yang mengetengahkan masalah PENDIDIKAN. Bagaimana pendidikan di masa depan, kemana arah pendidikan di masa depan, masih perlukah seorang siswa bunuh diri karena tidak lulus UN, masih adilkah pendidikan yang diterima oleh masyarakat, masih perlukah pendidikan yang mengatasnamakan kualitas bersendikan nilai, masihkah, masihkah, masihkah, …? Yang terdengar hanya…EKONOMI KERAKYATAN…..
Apakah saya harus memilih sementara saya melihat ‘dunia’ saya tak terjamah oleh mereka…
Dulu Malaysia banyak belajar dari Indonesia (kita “mengekspor” guru ke sana), sekarang….?
Guru Indonesia banyak belajar ke Malaysia (termasuk guru SMA kita)
Pantas Malaysia menjadi sombong….
Kapan Bangsa ini memiliki pemimpin yang visioner?
Dan…..saya tetap istiqomah.